Sisakan PSM sebagai Delegasi, Sulsel Perlu Hidupkan Kembali Klub-klub Daerah
Luwu Timur– PSM Makassar telah lama menjadi kebanggaan, benteng terakhir, dan satu-satunya duta Provinsi Sulawesi Selatan di kancah sepak bola nasional. Julukan “Juku Eja” bersliweran di Liga 1, menjadi simbol ketangguhan tim timur. Namun, di balik gemerlapnya sang jawara, tersembunyi sebuah kerapuhan sistemik yang mengancam masa depan sepak bola Sulsel secara keseluruhan.
PSM bagai sebuah piramida megah yang berdiri tanpa alas yang kokoh. Ia menjulang tinggi, tetapi fondasinya rapuh. Ketergantungan yang hampir mutlak pada akademi internalnya untuk regenerasi pemain, sementara mengabaikan saluran talenta dari klub-klub Askab (Asosiasi Kabupaten) dan Askot (Asosiasi Kota), membuatnya rentan ambruk suatu saat nanti.
Mantan pemain dan pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar, dengan tegas menyoroti masalah ini. “Kita lihat sampai sekarang, tidak ada juga klub-klub yang bisa menjadi penopang PSM. Hampir semua pemain muda itu dari akademi saja,” ujarnya, Rabu (3/9/2025).
Kekhawatiran Syamsuddin sangat masuk akal. “Jadi kalau PSM tidak ada, selesai. Habis kita. Seharusnya 24 kabupaten/kota punya klub, jadi nanti ada divisi tiga, divisi dua, dan ada yang diharapkan untuk menopang PSM,” terangnya. Visinya jelas: membangun piramida sepak bola yang sehat, di mana PSM adalah puncaknya, didukung oleh puluhan klub di bawahnya yang saling bersaing dan menyuplai talenta.
Era Keemasan yang Sirna dan Kekosongan yang Tercipta
Pada masanya, Sulsel bukan hanya tentang PSM. Provinsi ini pernah memiliki ekosistem sepak bola yang hidup. Names like Persipare Parepare, Gaspa Palopo, Gasiba Bulukumba, dan Sidrap United bukan sekadar nama. Mereka adalah klub-klub yang punya identitas, basis suporter fanatik, dan pernah berkompetisi hingga level nasional di Liga 3.
Namun, satu per satu klub-klub itu redup dan mati. Mereka hilang bukan karena tidak ada peminat, melainkan karena pembinaan yang tidak maksimal dan kurangnya keberlanjutan program.

Baca Juga: Dalam Pernyataan di Istana, Mensos Gus Ipul Pastikan Korban Aparat Juga Dapat Perhatian
Sadakati Sukma, Pembina Presidium Nasional Suporter Sepak Bola Indonesia (PNSSI), membenarkan hal ini. “Dulu kita punya Persipare, ada Sidrap United, dan beberapa klub yang bersaing… Tetapi sekarang sepertinya hilang semua. PSM menjadi sendiri, tidak ada yang bisa mensupport talenta dari klub-klub daerah,” katanya.
Yang tersisa kini hanyalah kenangan dan PSM yang harus berjuang sendirian, mencari bibit unggul dari dalam rumahnya sendiri, alih-alih memanen dari kebun-kebun subur di seluruh penjuru Sulsel.
Masalah Akar Rumput: Seremonial vs Pembinaan Berkelanjutan
Lalu, di mana letak persoalan utamanya? Kedua ahli menyoroti pola pikir pengurus sepak bola di level daerah. Askab, Askot, dan Asprov PSSI Sulsel dinilai lebih gemar melakukan kegiatan seremonial dibandingkan dengan membangun sistem pencarian bakat dan pembinaan yang berjenjang.
“Ya, mohon maaf saja, selama ini, kan, hanya seremonial, menghabiskan anggaran. Setelah kompetisi selesai, ya, selesai juga, tidak ada follow up apa-apa. Jadi output-nya tidak jelas, tidak ada pembinaan yang berkelanjutan,” tegas Sadakati Sukma.
Kompetisi digelar sekadar untuk menggugurkan kewajiban atau menghabiskan anggaran. Tidak ada roadmap yang jelas. Pemain-pemain terbaik yang muncul dalam sebuah liga Askab tidak memiliki jalur yang mulus untuk naik level. Mereka berhenti begitu saja, potensinya terbuang percuma, karena tidak ada klub yang menjadi wadah pengembangan selanjutnya di level yang lebih tinggi.
Jalan Keluar: Sinergi Segitiga Emas
Lalu, bagaimana memecahkan kebuntuan ini? Syamsuddin Umar memberikan resep yang jelas: sinergi. Sinergi segitiga emas antara Asosiasi (PSSI Daerah), Pemerintah (Daerah dan Provinsi), dan KONI.
“Kita harus selalu bersinergi dengan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi untuk membangun olahraga. Karena tanpa itu, kita tidak mungkin bisa berjalan sebagai apa yang kita inginkan. Termasuk juga melalui KONI daerah,” kata dia.
Peran pemerintah daerah sangat krusial, bukan hanya sebagai pemberi anggaran, tetapi sebagai fasilitator yang memastikan klub-klub lokal memiliki akses ke lapangan, fasilitas latihan, dan dukungan moril. Sementara KONI, sebagai induk olahraga, harus mampu menaungi dan memfasilitasi semua cabang olahraga, termasuk mendorong komunikasi yang baik dengan Askab/Askab sepak bola.
Beberapa langkah konkret yang dapat diambil:
-
Revitalisasi Klub Lokal: Setiap kabupaten/kota didorong untuk menghidupkan minimal satu klub flagship yang berlaga di Liga 3. Klub ini harus dikelola secara profesional, meski skalanya kecil.
-
Membangun Piramida Kompetisi: Asprov PSSI Sulsel perlu membuat kompetisi yang berjenjang, mulai dari liga antar desa/kelurahan, liga kabupaten, hingga liga regional Sulsel. Juara dari liga regional ini berhak promosi ke Liga 3 nasional.
-
PSM sebagai “Club Hub”: PSM dapat membangun jaringan pemanduan bakat (scouting network) yang bekerja sama dengan semua Askab/Askab. Mereka juga dapat meminjamkan pemain muda akademinya ke klub-klub Liga 3 di Sulsel untuk mendapat jam terbang.
-
Kompetisi yang Bermakna: Mengubah paradigma dari kompetisi seremonial menjadi kompetisi yang memang ditujukan untuk mencari dan menyalurkan bakat. Harus ada jaminan bagi pemain terbaik untuk direkrut oleh klub level atas atau akademi PSM.
-
Keterlibatan Swasta dan CSR: Melibatkan perusahaan lokal dan program CSR (Corporate Social Responsibility) untuk menjadi sponsor klub-klub daerah, menciptakan sustainability finansial di luar anggaran pemerintah.
Persoalan ini pada hakikatnya bukan hanya tentang sepak bola. Ini tentang kebanggaan daerah, tentang memberikan wadah bagi anak-anak muda di pelosok Maros, Takalar, Enrekang, atau Wajo untuk bermimpi dan mengembangkan diri. Sepak bola adalah alat yang powerful untuk social development.
Membangun klub-klub daerah berarti membangun kembali kebanggaan kolektif setiap kabupaten, menciptakan lapangan kerja baru, dan yang terpenting, menyediakan jalur meriah bagi generasi muda untuk menggapai cita-cita.
PSM Makassar tidak akan menjadi lebih lemah dengan bangkitnya klub-klub lain. Justru sebaliknya, ia akan menjadi lebih kuat. Ia akan memiliki rival-rival sehat di tingkat regional yang mematangkan mental, dan yang paling penting, ia akan memiliki sumber daya manusia yang melimpah yang telah terlatih dalam kompetisi yang ketat.
Sulawesi Selatan punya segalanya: passion, talenta alamiah, dan sejarah sepak bola yang gemilang. Kini, saatnya untuk membangun bukan hanya satu tim juara, tetapi sebuah ekosistem sepak bola yang tangguh dan berkelanjutan. Agar PSM tidak lagi menjadi delegasi tunggal yang kesepian, melainkan pemimpin dari barisan panjang klub-klub tangguh kebanggaan Sulsel.


















