Luwu Timur– Semangat membangun sumber daya manusia (SDM) unggul kembali digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Dalam apel pagi rutin yang digelar di halaman Kantor Bupati Luwu Timur Staf Ahli Bidang Pembangunan, Rapiuddin Tahir, menyerukan pentingnya meningkatkan budaya literasi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat luas.
Apel yang diikuti oleh para pejabat eselon II, III, IV, staf PNS, PPPK, serta tenaga upah jasa itu berlangsung khidmat dan penuh makna. Dalam arahannya, Rapiuddin menekankan bahwa literasi merupakan kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan dan membuka jalan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.
“Kemiskinan itu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga pengetahuan dan spiritualitas. Ada tiga bentuk kemiskinan, yaitu miskin ilmu, miskin harta, dan miskin iman,” ujarnya. “Kalau kita ingin keluar dari kemiskinan, maka kita harus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Dan cara termudah untuk itu adalah dengan membaca.”
Perpustakaan Jadi Pusat Gerakan Literasi
Dalam kesempatan tersebut, Rapiuddin mengajak seluruh ASN untuk berperan aktif dalam menggerakkan masyarakat agar gemar membaca. Ia menilai, perpustakaan daerah memiliki peran vital dalam membentuk karakter dan kecerdasan generasi muda.
Ia bahkan mengusulkan agar setiap kegiatan “Sabtu Sehat Juara” diisi dengan aktivitas literasi, seperti membuka taman baca dan mengajak anak-anak untuk berkunjung ke perpustakaan.
Baca Juga: Bupati Irwan Ajak Wisudawan Politeknik Sorowako Bangun Luwu Timur
“Setiap Sabtu Sehat Juara, mari kita hidupkan perpustakaan taman baca. Ajak anak-anak kita datang dan membaca di sana. Jika mereka terbiasa membaca sejak kecil, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berwawasan luas,” jelasnya.
Menurutnya, kebiasaan membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan daya pikir kritis, rasa ingin tahu, serta sikap terbuka terhadap perubahan zaman.
Tantangan Literasi di Era Digital
Rapiuddin juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi masyarakat modern, terutama generasi muda, di tengah maraknya penggunaan gadget dan media sosial. Ia mengingatkan bahwa meski teknologi memberikan banyak manfaat, penggunaan yang berlebihan—terutama untuk bermain game—dapat mengikis minat membaca dan menurunkan kemampuan berpikir mendalam.
“Gunakan gadget untuk hal-hal bermanfaat. Jangan biarkan anak-anak kita tenggelam dalam permainan yang tidak mendidik. Dengan membaca, kita membuka jendela dunia dan memperluas cakrawala berpikir,” pesannya tegas.


















