Luwu Timur– Dalam upaya memperkuat kemandirian desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur resmi meluncurkan program Pembangunan Desa Unggul Juara (Pandu Juara).
Launching program ini dipimpin langsung oleh Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, di Aula Sasaran Praja Kantor Bupati. Momen ini ditandai dengan penandatanganan pakta integritas oleh para Kepala Desa dan Ketua BPD, sebagai komitmen bersama menjalankan program strategis tersebut.
33 Desa Jadi Pilot Project Pandu Juara
Dalam arahannya, Bupati Irwan menegaskan bahwa 33 desa akan menjadi final project Pandu Juara pada tahun 2025.
“Awalnya saya ingin mengambil tiga desa sebagai sampel di setiap kecamatan. Karena ada 11 kecamatan, maka totalnya 33 desa yang kita jadikan final project,” jelasnya.
Irwan menilai bahwa beberapa program desa sebelumnya memang berjalan, namun belum sepenuhnya memberikan asas manfaat maksimal bagi masyarakat. Karena itu, Pandu Juara hadir sebagai upaya menyatukan langkah, menggali potensi desa, serta memastikan dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.
Sinergi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Bupati Irwan juga menyinggung peluang besar yang terbuka lewat program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dengan adanya program MBG dan pengadaan dapur, setiap kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Luwu Timur, mendapat 30 dapur. Ini peluang besar untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan pangan, khususnya ayam dan telur,” paparnya.
Baca Juga: PT Vale Latih 87 Pemuda Luwu Timur Siapkan Tenaga Kerja Andal Era Hilirisasi Mineral
Untuk itu, pihaknya merencanakan studi tiru di beberapa daerah yang sudah berhasil mengembangkan potensi unggulan desa. Harapannya, desa-desa di Luwu Timur bisa menjadi mandiri secara ekonomi, terutama di sektor pangan.
Tim Ahli RPJMD Luwu Timur, Afrianto, menyampaikan bahwa Pandu Juara disusun berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
“Kenapa ada kata unggul di dalamnya? Karena kita ingin setiap desa memiliki komoditi unggulan yang bisa menjadi sumber pendapatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Afrianto, sektor pertanian tetap menjadi pondasi utama. Di tahap awal, tim akan melakukan pengkajian potensi desa untuk mengidentifikasi komoditi unggulan yang selanjutnya dikembangkan, hingga ke level pemasaran dan distribusi.
“Harapan kami, dalam tiga hingga lima tahun ke depan, desa-desa bisa mencapai level desa mandiri. Komoditi unggulan yang dikembangkan bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menyerap tenaga kerja dan menurunkan angka kemiskinan,” tambahnya.


















