Dari Sekolah Rakyat ke Rumah Layak Huni: Sebuah Hari Bahagia untuk Naila, Wujud Nyata Perhatian Negara
Luwu Timur– Langit cerah di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (5/9/2025), seakan ikut merayakan haru biru yang menyelimuti Naila dan keluarganya. Hari itu bukan sekadar hari biasa, melainkan titik balik dalam kehidupan mereka. Sebuah rumah layak huni baru, berjenis knockdown yang praktis dan sehat, diresmikan secara langsung oleh Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), didampingi oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
Peresmian ini bukan hanya tentang satu unit rumah, melainkan simbol dari sebuah mata rantai program pemerintah yang menyentuh hidup seorang anak dari akar rumput: dari beasiswa pendidikan hingga peningkatan kualitas tempat tinggal.
Naila: Wajah Penuh Harap Program Sekolah Rakyat Prabowo
Diketahui, Naila adalah seorang siswi yang berasal dari Kelurahan Pandang Raya, Kecamatan Panakkukang. Ia adalah salah satu penerima manfaat dari program Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto sejak masa kampanye dan diwujudkan dalam pemerintahannya. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian beasiswa untuk menyekolahkan anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga memiliki pendekatan holistik untuk memahami kesulitan yang mereka hadapi di luar sekolah.
Naila, dengan semangat belajarnya yang tinggi, adalah potret generasi penerus bangsa yang penuh potensi. Namun, potensi itu seringkali terbentur oleh kondisi rumah yang tidak layak, yang dapat mempengaruhi konsentrasi belajar dan kesehatan. Melalui pendampingan intensif dari program Sekolah Rakyat, kondisi keluarga Naila teridentifikasi, tidak hanya membutuhkan dukungan pendidikan, tetapi juga perbaikan infrastruktur dasar berupa tempat tinggal.

Baca Juga: Lima Hari Pasca Kerusuhan, Polisi Fokus Kejar Aktor Intelektual Pembakar Gedung DPRD Makassar
Oleh karena itu, selain menerima beasiswa, Naila terpilih untuk mendapatkan Bantuan Rumah Layak Huni (RLH) dari Kementerian Sosial. Pemilihan Naila bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari pendataan yang cermat, menunjukkan bahwa bantuan yang tepat sasaran dapat mengubah nasib satu keluarga.
Sinergi Pusat dan Daiah: Kunci Keberhasilan
Dalam sambutannya, Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah pusat atas kepeduliannya.
“Mendampingi Menteri Sosial, Bapak Saifullah Yusuf, meresmikan bantuan rumah layak huni untuk Naila dan warga sekitarnya sebagai bentuk perhatian Bapak Presiden Prabowo Subianto di Kelurahan Untia, Biringkanaya, Makassar,” ucap Andi Sudirman dengan penuh semangat.
Ia melanjutkan dengan komitmen yang konkret, “Terima kasih banyak Bapak Menteri telah membangun rumah untuk Naila dan keluarga serta seluruh tetangga dan warga kurang mampu lainnya. Mudah-mudahan ini awal untuk rumah-rumah yang lebih banyak lagi.”
Yang menarik, Gubernur tidak hanya berterima kasih, tetapi juga menawarkan sebuah formula sinergi yang jelas antara pemerintah provinsi, kota, dan kementerian. “Insya Allah kita sama-sama mendata rumah yang layak dibantu. Provinsi cari lahannya, Pak Wali cari lahannya, Pak Menteri yang bangun rumahnya,” tambahnya. Formula sederhana ini menunjukkan pemahaman yang baik tentang peran masing-masing pihak untuk mempercepat penanganan masalah permukiman kumuh.
Model Untia: Prototype untuk Kota Makassar dan Indonesia
Menteri Sosial Gus Ipul dalam pidatonya menekankan bahwa peresmian rumah untuk Naila dan warga sekitar ini adalah sebuah langkah nyata, bukan sekadar seremonial. Ia melihat kolaborasi erat antara Kementerian Sosial, Pemprov Sulsel, dan Pemkot Makassar sebagai kunci keberhasilan program.
“Ini semua tentu kita jadikan satu model. Mudah-mudahan kalau ini berhasil, kita bisa duplikasi dan perbanyak lagi untuk menjangkau lebih banyak warga,” jelas Gus Ipul penuh harap.
Ia juga mengungkapkan bahwa hasil diskusinya dengan Gubernur Andi Sudirman dan Wali Kota Makassar menunjukkan masih banyak warga yang tinggal di kawasan kumuh dan memerlukan relokasi serta perhatian serius. Keberhasilan pembangunan percontohan di Untia ini akan menjadi tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo untuk mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
“Kalau kita bisa kerja sama, banyak hal yang bisa kita kerjakan lebih cepat dan menjangkau lebih banyak lagi,” tegas Mensos mantap.
Sebuah Harapan Baru yang Terbangun
Rumah knockdown yang diresmikan itu lebih dari sekadar beton dan kayu. Ia adalah simbol kepedulian, bukti sinergi, dan wujud nyata dari janji pemerintah untuk hadir bagi rakyatnya yang paling membutuhkan.
Bagi Naila, rumah baru ini berarti ia bisa belajar dengan tenang, tanpa khawatir bocor ketika hujan atau kepanasan ketika terik. Bagi orang tuanya, ini adalah kehormatan dan motivasi untuk terus bekerja keras membesarkan anak mereka yang berprestasi.
Peristiwa di Untia hari itu mengirimkan pesan kuat: bahwa pembangunan Indonesia haruslah menyentuh mereka yang ada di garis terdepan dalam menghadapi kesulitan ekonomi. Dimulai dari seorang anak bernama Naila, yang mendapat beasiswa Sekolah Rakyat, dan diakhiri dengan sebuah rumah yang layak, lengkaplah sudah dukungan negara untuk mencetak generasi penerus yang sehat, cerdas, dan penuh harapan.
Inilah wajah pembangunan yang humanis, yang dimulai dari mendengarkan dan hadir langsung menyelesaikan masalah. Dan seperti kata Gubernur Andi Sudirman, mudah-mudahan ini adalah awal dari ribuan rumah lain yang akan dibangun untuk warga Sulsel dan Indonesia.


















