Shoppe Mall
Shoppe Mall
Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Kabut Dini Hari Menyaksikan Tragedi, Pertikaian Keluarga di Maros Berakhir Pembunuhan

Kabut Dini Hari Menyaksikan Tragedi, Pertikaian Keluarga di Maros Berakhir Pembunuhan

banner 120x600
banner 468x60

Drama Keluarga Berakhir Tragis: Ayah dan Anak Tebas Kerabat Hingga Tewas di Maros

Luwu Timur– Kabut tebal masih menyelimuti Dusun Biring Jene, Desa Moncongloe, Maros, ketika sebuah drama keluarga yang dipicu amarah membara berakhir dalam tragedi berdarah pada dini hari Sabtu (23/8/2025). Sebuah pertikaian yang berawal dari percakapan telepon panas, merembet menjadi keributan massal, dan akhirnya ditutup dengan aksi pembunuhan brutal yang dilakukan justru oleh orang-orang terdekat. Korban, Masdar (41), tewas mengenaskan ditebas parang dan ditusuk badik oleh sang sepupu, S (45), dan keponakannya, MS (20).

Awal Mula: Percikan Api dari Percakapan Telepon

Badan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros berhasil mengamankan kedua pelaku hanya dalam sehari pasca kejadian. Kepala Satreskrim Polres Maros, Iptu Ridwan, dalam konferensi persnya menjelaskan bahwa motif pembunuhan ini berakar dari dendam dan rasa sakit hati yang dipendam.

banner 325x300

“Para pelaku telah dinyatakan sebagai tersangka dan mengakui perbuatannya. Motif perbuatan karena sakit hati oleh korban kepada keluarganya,” jelas Ridwan, Minggu (24/8).

Kabut Dini Hari Menyaksikan Tragedi, Pertikaian Keluarga di Maros Berakhir Pembunuhan
Kabut Dini Hari Menyaksikan Tragedi, Pertikaian Keluarga di Maros Berakhir Pembunuhan

Baca Juga: Badan Meteorologi Keluarkan Prakiraan Cuaca Sulsel, Pagi Hari Cerah Berawan

Insiden ini berpangkal dari sebuah pertengkaran antara Masdar dan istrinya, Rahmatia, yang terjadi melalui sambungan telepon. Dalam emosinya yang memuncak, Masdar disebut-sebut mengeluarkan kata-kata ancaman yang ditujukan kepada istrinya. Ancaman inilah yang kemudian sampai ke telinga keluarga besar Rahmatia.

Mendengar kabar bahwa saudara perempuannya diancam akan dibunuh, S yang merupakan kakak dari Rahmatia, langsung tersulut emosinya. Rasa protectif sebagai kepala keluarga dan kakak tertua membuatnya tidak bisa tinggal diam. Dia bersama putranya, MS, kemudian bergerak untuk ‘menghadang’ Masdar yang akan pulang.

Dini Hari yang Mencekam: Adu Mulut Berubah Jadi Aksi Brutal

Sekitar pukul 03.30 WITA, saat suasana dusun masih sepi dan gelap, Masdar tiba di lokasi. Pertemuan itu tidak lagi bisa dihindari. Adu mulut pun terjadi. Suara keras pertengkaran mereka memecah kesunyian malam, menarik perhatian tetangga dan memicu keributan. Keluarga pelaku pun berdatangan, didorong oleh rasa solidaritas untuk membela Rahmatia yang merasa terancam.

Dalam situasi yang sudah tidak terkendali, emosi mengambil alih nalar. S, yang sudah diliputi rasa kesal melihat perlakuan Masdar yang dianggapnya berlebihan terhadap adiknya, mengambil parang. Dalam sekejap, satu tebasan maut dihunjamkannya ke kepala Masdar. Tebasan itu begitu keras hingga menembus tulang tengkorak dan otak korban.

Tidak berhenti di situ, MS yang masih muda dan dilanda amarah melihat tantenya (ibunya) dikasari, juga mengambil tindakan. Dengan badik—senjata tajam khas Sulawesi yang mematikan—ia menusuk punggung Masdar. Tusukan itu tepat mengenai sasaran, menembus hingga ke jantung.

Dengan luka yang sangat kritis, Masdar tidak memiliki kesempatan untuk bertahan. Ia menghembuskan napas terakhirnya di tempat kejadian perkara (TKP), meninggalkan istri, anak, dan keluarga yang berduka.

Penangkapan dan Penyerahan Diri: Jejak yang Mudah Dilacak

Adik korban, Hartoyo, pertama kali mendapat kabar buruk itu dari rekan kerja Masdar bernama Tari, yang menyebutkan telah terjadi penganiayaan. Hartoyo bergegas menuju Polsek Moncongloe untuk melaporkan insiden tersebut. Namun, saat tiba di kantor polisi, kabar yang diterimanya justru lebih pahit: sang kakak telah dinyatakan tewas.

Tim gabungan Polsek Moncongloe dan Jatanras Satreskrim Polres Maros langsung bergerak cepat. Olah TKP dilakukan, dan barang bukti diamankan: sebilah parang, sebilah badik, baju kaos yang dikenakan tersangka, serta dua ponsel milik korban dan istrinya.

Jejak pelaku tidak sulit dilacak mengingat mereka adalah keluarga dekat. MS berhasil diamankan di rumahnya. Sementara S sempat melarikan diri, menghindari rasa malu dan takut atas konsekuensi perbuatannya. Namun, setelah dilakukan pendekatan persuasif oleh polisi bersama keluarga, pada Minggu siang sekitar pukul 12.00 WITA, S akhirnya menyerahkan diri ke Polsek Moncongloe dengan wajah penuh penyesalan.

Penyesalan di Balik Terali Besi: Nasi Sudah Menjadi Bubur

Dalam pemeriksaan, kedua tersangka mengakui perbuatannya dengan polosnya. S mengaku menebas kepala korban sekali dengan parang. “Karena kesal perbuatan korban kepada saudaranya berlebihan,” ujar Ridwan mengutip pengakuan S.

MS juga mengaku hanya menikam sekali di bagian punggung. “Karena sakit hati tantenya dikasari pelaku,” tambah Ridwan. Pengakuan ‘sekali’ itu kontras dengan dampak fatal yang ditimbulkan, menunjukkan betapa brutalnya serangan yang mereka lakukan.

Kedua tersangka kini ditahan di Polres Maros dan dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, yang ancaman pidananya mencapai 15 tahun penjara. Mereka harus mempertanggungjawabkan amarah sesaat yang merenggut nyawa dan memecah belah keluarga selamanya.

Analisis Psikososial: Ketika Emosi Mengalahkan Ikatan Kekeluargaan

Kasus ini lebih dari sekadar tindak pidana biasa; ini adalah potret buram konflik keluarga yang eskalasi dan berujung pada tragedi. Beberapa faktor yang bisa dicermati:

  1. Budaya dan Kehormatan Keluarga: Dalam banyak budaya, termasuk di Sulawesi, membela kehormatan keluarga, terutama perempuan, adalah harga mati. Ancaman yang dilontarkan Masdar kepada istrinya dipandang sebagai penghinaan serius yang harus ‘dibalas’ oleh pihak keluarga laki-laki dari sang istri.

  2. Komunikasi yang Gagal: Pertengkaran melalui telepon, tanpa tatap muka, seringkali memicu misinterpretasi dan emosi yang lebih tinggi. Kata-kata ancaman bisa saja diucapkan dalam emosi tanpa benar-benar bermaksud melakukannya, namun pihak penerima sudah menerimanya sebagai sebuah deklarasi perang.

  3. Mob Mentality: Kedatangan keluarga besar saat keributan terjadi menciptakan suasana ‘kita versus dia’. Solidaritas kelompok ini dapat mendorong individu untuk melakukan hal-hal ekstrem yang mungkin tidak akan dilakukannya sendirian.

  4. Akses terhadap Senjata Tajam: Parang dan badik adalah benda yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan emosi, benda yang seharusnya menjadi alat kerja berubah menjadi alat pembunuh.

Refleksi: Pelajaran Pahit untuk Semua

Tragedi Masdar, S, dan MS adalah pil pahit yang harus ditelan oleh dua keluarga yang seharusnya bersatu. Seorang istri kehilangan suami, seorang anak kehilangan ayah, dan seorang istri lain harus menunggu suami dan anaknya menjalani hukuman penjara belasan tahun.

Kisah ini menjadi pengingat bagi semua tentang betapa berharganya mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Komunikasi yang baik antar keluarga, kesabaran, dan menghindari kata-kata ancaman dalam setiap pertengkaran adalah kunci untuk mencegah eskalasi konflik yang berujung pada penyesalan seumur hidup.

Nyalawa na mate de’na galla-galla, nyawa yang pergi tidak akan kembali. Hanya penyesalan dan duka yang tertinggal, mengingatkan kita bahwa dalam api amarah, yang terbakar pertama kali adalah akal sehat dan ikatan kekeluargaan itu sendiri.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *